Vichai Srivaddhanaprabha Lebih Dari Bos Untuk Penduduk Leicester

Info Promo Dan Bonus Kami :
1. Bonus Cashback 10%
2. Bonus Rollingan 0,7%
3. Bonus Referensi 5%
4. Deposit Hanya 50 Ribu
Klaim Bonus Anda Dengan Cara Klik Disini

Vichai Srivaddhanaprabha Lebih Dari Bos Untuk Penduduk Leicester – Yang publik tahu Vichai Srivaddhanaprabha ialah bos Leicester City. Tetapi buat The Foxes dan penduduk Leicester, Vichai lebih dari sebatas pemilik club.

Mungkin tidak banyak yang tahu figur Vichai sebelum Leicester kembali pada Premier League pada 2015. Lumrah mengingat waktu Vichai menggantikan pada 2010, Leicester masih tetap bermain di divisi Championship serta telah satu dekade lebih mangkir dari pertandingan paling tinggi.

Vichai ialah seseorang entrepreneur papan atas Thailand yang memulai usaha toko bebas cukai atau duty free-shop di Bangkok pada 1989 dengan modal seadanya yang diberi nama King Power. Perlahan-lahan akan tetapi tentu, usaha Vichai bertambah cepat yang membuat mulai memperlebar usaha ke minimarket yang menyebar di pelosok Thailand.

Sebelum Membaca Lebih Lanjut, Silahkan Hubungi Kontak Yang Kami Sediakan Untuk Dapatkan Bonus Terbaik Dari Kami

Lihat Kontak Kami Klik Disini :

Karena upayanya yang bertambah cepat itu, Vichai lalu mendapatkan titel bangsawan dari Kerajaan Thailand pada 2009 sebelum satu tahun sesudahnya mengawali usaha baru di lapangan hijau.

Vichai akan memutuskan beli Leicester pada Agustus 2010 dari entrepreneur Milan Mandaric sebelum naik jabatan menjadi presiden club pada Februari 2011. Angka 39 juta pound sterling waktu itu atau seputar Rp 760 miliar bukan masalah buat Vichai yang miliki kekayaan 2,9 miliar pound, orang paling kaya ke lima di Thailand.

Di pertengahan tahun itu, Vichai ikut ganti nama stadion Leicester dari Walker Fase jadi King Power Fase. Dari sana, dimulailah usaha Vichai membawa kembali Si Ubah kembali pada kasta paling tinggi persepakbolaan Inggris hingga kemudian terwujud pada 2014 saat mereka memenangkan Championship bersama dengan Nigel Pearson.

Kembali pada Premier League, Vichai coba mengatur team dikit demi sedikit walau usaha itu termasuk berat. Sudah sempat menuliskan start oke, Leicester perlahan-lahan alami penurunan mencolok serta sudah sempat berada di basic klassemen waktu Premier League sebelum pada akhirnya finish tempat ke-14 diakhir musim 2014/2015.

Semusim sesudahnya, Vichai akan memutuskan mengeluarkan Pearson sebab masalah di Thailand waktu session pramusim serta mengusung Claudio Ranieri. Ketetapan berikut yang lalu berbuah riwayat mengagumkan dalam persepakbolaan Inggris serta terutamanya Leicester. Pada musim 2015/2016, Leicester mengagetkan kebanyakan orang dengan kesuksesan mereka memenangkan Premier League.

Cuma miliki koefisien 5000/1 untuk jadi juara, Leicester mematahkan semua perkiraan untuk berjaya di kasta paling atas sepakbola Inggris. Bermodalkan Jamie Vardy, Kasper Schmeichel, Wes Morgan, Robert Huth, serta pembelian seperti Riyad Mahrez, Marc Albrighton, serta N’Golo Kante, Ranieri dapat menggilas semua raksasa.

Itu yang lalu membuat nama Vichai semakin harum di kota Leicester sebab ia sukses mengusung derajat club yang bukan siapapun juga di Inggris. Ditambah lagi Vichai ikut berperan besar melalui beberapa pekerjaan amal serta sosial untuk memajukan kota itu.

Salah satunya rutinitas unik yang diaplikasikan semenjak mempunyai Leicester ialah ia sering membawa biksu untuk memberkati beberapa pemainnya di ruangan ubah sebelum laga kandang. Klenik ini disebutkan jadi fakta kenapa club itu dapat juara Liga Inggris tiga tahun kemarin.

“Ia begitu senang tinggal di Inggris serta suka pada pola hidup disana dengan kekayaan yang dimilikinya. Ia suka minum anggur mahal, ia senang berjudi, serta senang berolahraga berkuda,” tutur kepala koresponden BBC Asia Tenggara Jonathan Head dalam satu kolomnya.

“Ia sering tampak bareng keluarga kerajaan, berlaga polo dengan anak-anaknya. Ia begitu kagum pada kehidupan kelas atas di Inggris,” sambungnya.

Ya, Vichai memang tidak tinggal di Leicester tetapi di London. Ia sering mendatangi laga-laga kandang Leicester dengan memakai helikopternya atau berkunjung ke Berkshire, tempat dimana ia tempatkan kuda-kuda peliharaannya. Tidak hanya sepakbola serta bridge, balap kuda memang jadi berolahraga favorite Vichai yang lain. Bahkan juga Vichai sekarang ikut mempunyai sebagian besar saham club lokal Belgia OH Leuven yang bertanding di pertandingan kasta ke-2.

Akan tetapi, siapa duga kesukaannya melihat langsung di stadion akhir minggu lantas ialah yang akhir kali dapat dikerjakannya. Beberapa saat sesudah pertandingan, helikopter yang dinaiki Vichai serta dua stafnya, alami rusaknya tidak lama sesudah takeoff dari dalam stadion serta terjatuh di ruang luar.

Helikopter saat itu juga terbakar serta berita juga secara cepat menyebar ke semua pelosok Inggris serta dunia. Sudah sempat tidak ada kejelasan sebelum pada akhirnya Leicester menginformasikan jika Vichai termasuk juga korban yang meninggal dalam jatuhnya helikopter itu.

Tidak hanya sepakbola Inggris, tetapi semua dunia berduka melepas kepergian salah satunya tokoh terpenting sepakbola. Buat Leicester, Vichai ialah figur dewa penolong yang mengantar mereka langit ke-7 selesai memenangkan Premier League.

Keluarga mereka begitu, begitu populer di kelompok penduduk Leicester. Mereka demikian di cintai oleh penduduk atas layanan mereka pada club serta apakah yang mereka sudah kerjakan untuk kota ini. Mereka sudah membuat kota ini populer di seluruh dunia,” tutur Chairman Grup Supporter Leicester Cliff Ginetta.

“Mereka telah berperan juta-an pound sterling ke club ini dan semakin banyak kembali uang yang dikasihkan pada rumah sakit lokal di sini dan panti bimbingan. Mereka tetap bagikan minum serta pie gratis waktu Natal – ya seperti itu mereka,” sambungnya.

Selamat jalan, Vichai!

You might also like